Pemuridan

PENTINGNYA DISIPLIN ROHANI DALAM PROSES PEMURIDAN

PENDAHULUAN

Spiritual disciplines are practices we do regularly that can help us change, with the power and grace of the Holy Spirit, our sinful habits into good habits that make us more like Christ and connect us closes to God”[1]

Perjanjian Lama

Dalam PL, kata yang dipakai untuk menerangkan disiplin adalah

rs^y* ‎yacar (yaw-sar’); a primitive root; to chastise, literally (with blows) or figuratively (with words); hence, to instruct: KJV – bind, chasten, chastise, correct, instruct, punish, reform, reprove, sore, teach.[2] Kata ini mengalami pergeseran arti dari admonish (mis: Mzm. 94:10, LAI: menghajar; Ams. 9:7, LAI: mendidik), dan discipline (mis: Ul. 4:36, LAI: mengajar; Ams. 3:11, LAI: didikan), menjadi chastise atau menghukum untuk kebaikan (mis: Im. 26:18, 28; Ams. 19:18).  Kata disiplin juga digunakan dalam konteks mengkoreksi (Ams. 15:33, NASB: instruction) yang akan memimpin kepada hikmat dan didikan.  Pendisiplinan seorang anak oleh ayahnya memberikan suatu analogi bagi pendisiplinan umat perjanjiannya (Ul. 8:5; Ams. 3:11-12; cf. Ibr. 12:4-11).

Perjanjian Baru

Dalam PB, paideu/w ‎paideuo (pahee-dyoo’-o); to train up a child, i.e. educate, or (by implication) discipline (by punishment):[3] “Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir . . .” (Kis. 7:22) dan “. . . Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar (didisiplin)  oleh ayahnya?” (Ibr. 12:7).  Kata paideu juga digunakan dalam konteks disiplin ilahi (Ibr. 12:6).

DEFINISI

Istilah disiplin rohani telah diterapkan dalam bidang keagamaan sejak permulaan sejarah manusia yang ditemukan dalam Yudaisme maupun Kekristenan.  Seorang pengikut Kristus biasanya dipanggil disciple (murid), yang berarti di dalam hidupnya mencakup disciplines dalam menjalankan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus (Flp. 3:9). Murid adalah kata yang disukai Kristus yang dipakai-Nya bagii mereka yang hidupnya sangat erat dengan-Nya. Kata Yunani untuk murid, Mathetes, dipergunakan 269 kali dalam kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul. Kata itu berarti orang “yang diajar” atau “dilatih”[4]

John Wesley mengatakan “It was a common saying among the Christian of the primitive church, the soul and the body make a man, the spirit and discipline make a Christian, impliying that none could be real Christians without the help of Christian discipline” (Ada ungkapan di kalangan orang Kristen mula-mula yang mengatakan jiwa dan tubuh membentuk seorang manusia, Roh dan kedisiplinan membentuk seorang Kristen.  Tanpa penerapan disiplin rohani tidak ada orang yang bisa disebut sebagai orang Kristen sejati).

Jadi dapat disimpulkan bahwa: pertama, disiplin rohani merupakan bagian hidup yang tidak dapat dilepaskan dari seorang yang menjadi murid Kristus. Kedua, disiplin rohani merupakan upaya aktif dari orang yang telah menjadi milik Kristus untuk makin menyerupai Kristus. Kedisiplinan Rohani mempunyai peranan yang penting dalam proses pemuridan. Murid bertumbuh menuju kedewasaan rohani dengan tujuan belajar menerapkan ajaran Tuhan sehingga bertumbuh menjadi dewasa yaitu menjadi serupa dengan Kristus secara progresif dan Roh Kudus menyertainya.

TUJUAN

            Seseorang yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah seseorang memiliki status sebagai manusia baru (2 Kor. 5:17).  Sebuah status yang dianugerahkan Allah namun tetap menuntut tanggung jawab manusia untuk menjalani status tersebut. Kenyataan menunjukkan meskipun seseorang telah menjadi ciptaan baru namun kebiasaan-kebiasaan manusia lama masih sulit dihilangkan.  Di sinilah perlunya penerapan disiplin rohani, yaitu supaya kebiasaan-kebiasaan lama seorang murid diubah dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang sesuai dengan status yang baru.

Jadi tujuan disiplin rohani adalah menciptakan struktur kebiasaan rohani dalam proses pemuridan.  Suatu kebiasaan hidup yang terpola sejak lama biasanya sulit untuk diubah.  Perubahan itu kadang menyakitkan, sebab perubahan itu hendak menggeser rasa aman seorang murid. T.M. Moore mengatakan bahwa tujuan disiplin rohani adalah pertumbuhan orang Kristen.  Hasil dari disiplin rohani adalah menjadi lebih serupa dengan Yesus.  Dengan kata lain, melalui disiplin rohani seorang murid bertumbuh melampaui dirinya untuk menjadi lebih serupa dengan Juruselamat.

PRINSIP

Seorang murid yang Disiplin Rohani dalam proses pemuridan adalah:

  • Seorang murid adalah seorang Kristen yang tanpa putus-putusnya terlibat dalam firman Allah. Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku[5].
  • Seorang murid adalah Orang yang mengasihi dan menyerahkan nyawa untuk orang lain. Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.[6]
  • Seorang murid adalah orang yang setiap hari tetap bersekutu dengan Kristus sehingga menghasilkan buah. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa[7]

Di bawah ini ada beberapa prinsip tentang disiplin rohani, antara lain:

1.      Disiplin rohani menolong kita untuk menyenangkan hati Tuhan

Tuhan Yesus rajin berdoa di pagi hari bukan karena terpaksa atau melakukan sebuah tuntutan.  Ia begitu mengasihi Bapa dan rindu bersekutu dengan Bapa-Nya, meskipun sepanjang hari hingga malam Ia sibuk melayani tetapi keesokan paginya Ia tetap mengambil waktu untuk berdoa (Mrk. 1:35).

Disiplin rohani tidak bertujuan untuk membuat kita bermegah atau menyenangkan hati kita sendiri.  Yesus sendiri mengakui tiga disiplin yang penting dalam Yudaisme yaitu memberi, berdoa dan berpuasa (Mat. 6:2, 5, 16) serta memurnikan ketiganya dari motivasi self display dan self righteous orang-orang Farisi.

Kasih kepada Tuhan menjadi kunci apakah disiplin rohani menjadi paksaan atau sukarela. Thomas Kempis mengatakan, “Disiplin rohani mengajar kita bagaimana menjadi sahabat Allah; bagaimana mempunyai persahabatan yang indah dengan Allah.  Jika kita sungguh mengasihi Tuhan tentu kita tidak akan merasa terpaksa melakukan hal-hal yang menyenangkan hati-Nya, sekaligus yang membuat kita bertumbuh makin menyerupai-Nya.

2.      Disiplin tidak harus kaku

Tuhan tidak membimbing semua orang dengan cara yang sama, termasuk dalam menjalankan disiplin rohani.  Tuhan tidak menuntut kita menjadi orang lain ketika kita rindu bertumbuh mengenal Dia.  Disiplin rohani juga bukan sekedar ikut-ikutan.  Bila Martin Luther setiap hari bisa berdoa selama tiga jam lebih, bukan berarti kita harus berdoa tiga jam juga.  Oleh karena itu, tiap orang seharusnya mengenali bagaimana ia memulai berdisiplin rohani.  Jika seorang petobat baru, ia mungkin akan belajar hal-hal yang dasar seperti bersaat teduh dan berdoa syafaat.  Namun bagi seorang yang lebih dewasa rohaninya—disiplin rohani yang mungkin ia harus lakukan adalah hal-hal yang merupakan peningkatan (advance) dari disiplin rohani yang pernah ia terapkan.

Disiplin rohani juga tidak kaku sifatnya.  Tidak semua orang bisa melakukan suatu disiplin rohani dengan sempurna.  Ada orang yang bisa berpuasa tetapi ada orang yang tidak boleh berpuasa karena alasan kesehatan. .

3.      Disiplin rohani menuntut kerja keras dan latihan.  

Disiplin rohani meskipun bukan paksaan tetapi tetap menuntut kerja keras.  Paulus berkata, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasai seluruhnya, . . .” (1Kor. 9:27).  Hal ini menunjukkan bahwa dalam menjalani panggilan sebagai rasul, ia melatih dirinya dalam disiplin sedemikian rupa agar pelayanannya menjadi berkat dan mencapai tujuan yang Tuhan inginkan.  Tanpa kerja keras tidak ada hasil yang maksimal yang bisa didapatkan.  Seseorang mungkin ada yang senang memainkan biola tetapi tanpa kerja keras/latihan yang terus menerus tidak mungkin ia bisa memainkan biola dengan baik.  Demikian pula dengan disiplin rohani, agar disiplin itu tertanam baik dalam diri kita, perlu adanya usaha yang maksimal sampai kebiasaan kita terstruktur atau meresap menjadi bagian hidup.

Menerapkan disiplin rohani membutuhkan ketekunan, sebab tidak jarang kita gagal menerapkan disiplin tertentu.  Kegagalan bukan menjadi akhir dari segala-galanya.  Ketika kita melihat kegagalan terjadi, hal itu akan menolong kita menyadari bahwa melakukan disiplin rohani juga perlu anugerah Allah, perlu melibatkan Allah dalam mengubah diri kita menjadi serupa gambaran-Nya.  Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh bermegah ketika berhasil melakukan suatu disiplin rohani, sebab kalau kita bisa melakukannya semata-mata anugerah Allah.

Selain itu, perubahan yang terjadi ketika menerapkan disiplin rohani mungkin tidak langsung bisa dilihat.  Namun Roh Kudus berkuasa menolong dan kita taat dalam disiplin rohani maka perubahan semakin makin menyerupai Kristus adalah anugerah TUHAN.

PENERAPAN

            Bagaimana pembimbing memulai untuk disiplin rohani dalam proses pemuridan yaitu Mengajarkan kepada setiap murid mengenai bagaimana cara hidup bersekutu dengan Kristus dan Gereja-Nya.

  • Kristus (Hidup) belajar bagaimana hidup dalam Kristus. Galatia 2:20; Filipi 1:21; 4:13
  • Firman (Makan) belajar bagaimana makan secara Rohani. 1 Petrus 2:2; Kis. 17:11; 20:32
  • Doa (Berbicara) belajar bagaimana berbicara dengan Tuhan. Yohanes 16:24; Matius 21:22; 1 Yohanes 5:14,15.
  • Gereja (Bersekutu) Belajar bagaimana bersekutu bersama-sama dengan saudara-saudara seiman. Ibrani 10:24-25; Yohanes 13:34-25; Mazmur 122:1.
  • Kesaksian (Memberitakan) belajar bagaimana menceritakan pengalaman Rohani. 1 Yohanes 1:3; Kis. 1:8; 1 Petrus 3:15.
  • Ketaatan (Berjalan) murid belajar bagaimana berjalan secara rohani. Yoh. 14:21; 15:10; Ibrani 5:8,9

Beberapa kegiatan disiplin rohani dalam proses pemuridan

Disiplin waktu bersama dengan Tuhan.

  • Untuk mengenal mengenal Bapa Kami memang membutuhkan waktu (Filipi 3:10)
  • Saat teduh menyukakan hati Allah dan membuat-Nya senang ketika kita berdoa pada-Nya (Yohanes 4:23)
  • Secara pribadi seorang murid harus mempunyai waktu bersama Tuhan karena Tuhan adalah sumber dari segala-galanya.

Disiplin dalam kebenaran Alkitab.

  • Mendengar Firman Tuhan: Roma 10:17; Wahyu 2:7,17.
  • Membaca Firman Tuhan: 1 Timotius 4:13; Wahyu 1:3.
  • Mempelajari Firman Tuhan: Kis. 17:11; 2 Timotius 2:15.
  • Menghafal Firman Tuhan: Maz. 119:11; Amsal 7:1,3.
  • Merenungkan Firman Tuhan: 1 Timotius 4:15; Maz 1:2; Yosua 1:8.
  • Melakukan Firman Tuhan: Yakobus 1:22; Yohanes 14:21.
  • Dalam proses pemuridan banyak ajaran sesat, dongeng, palsu yang akan mengganggu terutama kuasa kegelapan jadi pembimbing dan murid harus menggapai setinggi-tingg-nya bagi kerajaan Allah dan menyelam sedalam-dalamnya dalam kebenaran Firman Tuhan.

Disiplin dalam Penyembahan.

  • Penyembahan kepada Tuhan, dalam Roh dan kebenaran (Yoh. 4:23).
  • Penyembahan sebagai respon kepada Tuhan. Baik secara pribadi dan terbuka. (Mat. 6:6)
  • Pembimbing dan murid masing-masing mempunyai waktu untuk menyembah Tuhan baik secara pribadi maupun beribadah, bersekutu bersama-sama. Sangat penting penyembahan karena banyak kuasa lain yang akan mencoba memperhambat proses pemuridan sehingga Kedisiplinan sangat penting.

Disiplin dalam Pelayanan.

  • Yesus memberi contoh untuk melayani murid-murid-Nya. (Yoh. 13:14)
  • Melayani orang yang menderita (Mat. 25:40,45).
  • Melayani sangat penting baik di Gereja, di lingkungan, di dunia misi karena Tuhan telah terlebih dahulu memberikan teladan dan sebagai pengikut-Nya mengikut teladan Tuhan.

Disiplin dalam berdoa.

  • Berdoa adalah salah satu cara orang percaya berkomunikasi dengan Tuhan. Roh Kudus menolong untuk berdoa (Roma 8:26).
  • Para murid memohon untuk belajar berdoa (Luk. 11:1; Mat. 6) dan dapat mengampuni dan meminta ampun.
  • Tuhan Yesus Kristus juga berdoa (Yoh. 17).

Disiplin dalam berpuasa

  • Jesus both practiced and taugh fasting, you know. And yet, fasting is the most feared and misunderstood of all the Spritual Discipline.[8]
  • Tuhan Yesus berpuasa di padang belantara (Mat. 4)
  • Bangsa Israel berpuasa memohon pengampunan dari Tuhan (Hak. 20:26; Ez 8:21-23).
  • Tujuan puasa: menguatkan doa, mencari kehendak Tuhan, mengekspresikan keprihatinan/ kesedihan, mencari pembebasan dan penyelamatan, bertobat, merendahkan diri, peduli pada pekerjaan Tuhan, melayani orang lain, mengalahkan pencobaan, menyatakan kasih dan penyembahan kepada Tuhan.

Disiplin dalam Memberitakan Injil.

  • Tuhan Yesus Kristus memberikan Amanat Agung. (Mat. 28:18-20).
  • Memberitakan Injil dengan tujuan untuk kemuliaan Tuhan dan memenangkan banyak jiwa sebab ladang sudah menguning dan siap untuk dituai.

Disiplin dalan Penatalayan.

  • Sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat (Tit. 1:7). Dan Penatalayanan waktu, keuangan dsb.

Seorang Pembimbing telah terlebih dahulu melakukan Disiplin Rohani dan menjadi komitmen hidup untuk semakin serupa dengan Kristus sehingga dalam proses pemuridan, murid yang dibimbing juga harus terlibat dalam Disiplin Kerohanian dan Roh Kudus menolong sehingga nama Tuhan yang dimuliakan.

PENUTUP

            The commission of Christ to you was to make disciples, not just converts. So your objective now is to help this new Christian progress to the point where he is fruitful, mature and dedicated disciple.[9]

Dalam proses pengudusan hidup seorang murid dan pembimbing bekerja sama untuk memuliakan Tuhan. Pembimbing dan murid yang Disiplin Rohani dalam prosesnya melakukan kehendak Tuhan (Mat. 7:21), tetap dalam firman Tuhan (Yoh. 8:31,32),  memiliki karakter Kristus (Fil. 2:5-7), Meneladani Kristus (Yoh. 13:13-15), Saling mengasihi (Yoh. 13:35), berbuah banyak (Yoh. 15), bersedia memikul salib dan mengikut Kristus (Luk. 14:26,27),

Proses pemuridan pentingnya Kedisiplinan Rohani sehingga pembimbing dan murid memiliki sifat-sifat Kristus yang dikuasai oleh kasih karunia Kristus (I Tim. 2:1-2), mengabdi dalam pelayanan yang berlipatganda (II Tim. 2:2; II Kor. 6:1) dan berdisiplin agar kehidupannya berkenan kepada Allah (II Tim. 2:3-5).

Pemuridan merupakan ketaatan seorang murid kepada gurunya terutama ketaatan dan penyerahan diri seorang murid sepenuhnya kepada Tuhan. Guru yang baik seperti Yesus Kristus yang mengajarkan seluruh aspek kehidupannya dan memberikan kuasa yang di surga dan di bumi kepada murid-murid-Nya (Kis. 1:8, Mat. 28:18-20).


[1]  Spiritual Disciplines – Rose Publishing.

[2] (Biblesoft’s New Exhaustive Strong’s Numbers and Concordance with Expanded Greek-Hebrew Dictionary. Copyright © 1994, 2003, 2006 Biblesoft, Inc. and International Bible Translators, Inc.)

[3] (Biblesoft’s New Exhaustive Strong’s Numbers and Concordance with Expanded Greek-Hebrew Dictionary. Copyright © 1994, 2003, 2006 Biblesoft, Inc. and International Bible Translators, Inc.)

[4] Waylon. B. Moore, Penggandaan Murid-murid (Malang: Gandum Mas, 1981), 19.

[5] LAI: Yohanes 8:31

[6] LAI: Yohanes 13:34-35

[7] LAI: Yohanes 15:5

[8] Donald S. Whitney, Spiritual Disciplines for The Christian L.I.F.E ( USA), 15.

[9] Leroy Eims, The Lost Art of Disciple Makng (USA: Publishing), 61.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s